Proses Rekonsiliasi dan Pembuatan Adjustment

23 06 2011

Dalam proses penyusunan Laporan Inventory, Sales & Keuangan, rekonsiliasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Melakukan rekonsiliasi berarti mencoba untuk membenarkan pencatatan semua transaksi Penjualan dan yang dikeluarkan di Inventory serta berapa uang yang diterima keuangan yang ada di perusahaan dengan pencatatan Bank atas transaksi keuangan perusahaan. Pada prinsipnya, pencatatan Bank adalah selalu benar.
Dalam akuntansi terapan di Indonesia kita mengenal yang namanya SAK (Standar Akuntansi Keuangan). Standar inilah yang menjadi tolak ukur atau panduan proses pencatatan akuntansi di sebuah perusahaan. Standar ini pula yang menjadi “kitab” pembenaran atas penyajian sebuah Laporan Keuangan. Yang jelas, seimbangnya posisi debit dan credit menjadi hasil akhir sebuah Neraca Laporan Keuangan perusahaan.
Inventory harus berdasarkan perintah sales untuk mengeluarkan barang. Apabila inventory melakukan pengeluaran barang atas dasar adjustment yang lain seperti pengeluaran barang karantina (barang rusak, habis masa aktif, dalam proses return ke vendor). dan penerimaan stok yang tidak sesuai dengan berita acara penerimaan barang, inventory harus membuat adjustment tersendiri yang diketahui oleh sales dan keuangan.
Sales harus dengan kwitasi, dan atau berita acara ketika akan melakukan penjualan dan mutasi barang. Untuk mutasi harus dibagi dua, pertama mutasi barang yang sudah dipindah masih menjadi inventaris gudang lama sehingga jika ada penjualan atau transaksi barang, billing akan mengacu pada gudang lama, dan yang kedua barang yang sudah dipindah menjadi inventaris gudang baru, billing akan mengacu pada posisi gudang baru. Untuk pencatatan laporan, sales harus beriringan dengan kondisi available di warehouse inventory.
Rekonsiliasi bank, dimana harus mencocokkan antara pencatatan di General Ledger dengan Pencatatan yang ada direkening Koran perusahaan. ( Ancap harus sesuai dengan penjualan dan uang masuk).
Selanjutnya ketiga divisi menjalannya proses rekonsiliasi, menghasilkan outstanding items yang selanjutnya harus disesuaikan dengan jalan membuatkan penyesuaian (adjustment) atas kesalahan pencatatan tersebut. Adjustment harus disesuaikan dengan barang vailable di Inventory, Penjualan, dan uang yang diterima.
Berita acara adjustment dari semua cabang, BO dan OS akan dijadikan bahan rekonsiliasi wilayah yang selanjutnya akan diterbitkan Berita acara adjustment wilayah yang akan dikirim Kepusat.





Industri Kreatif

28 04 2010

<div style=”width:425px” id=”__ss_431905″><strong style=”display:block;margin:12px 0 4px”><a href=”http://www.slideshare.net/togar/industri-kreatif-riset-dan-pengembangan&#8221; title=”Industri Kreatif Riset dan Pengembangan”>Industri Kreatif Riset dan Pengembangan</a></strong><object width=”425″ height=”355″><param name=”movie” value=”http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=industrikreatifrisetdanpengembangan-1211940221444366-9&rel=0&stripped_title=industri-kreatif-riset-dan-pengembangan&#8221; /><param name=”allowFullScreen” value=”true”/><param name=”allowScriptAccess” value=”always”/><embed src=”http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=industrikreatifrisetdanpengembangan-1211940221444366-9&rel=0&stripped_title=industri-kreatif-riset-dan-pengembangan&#8221; type=”application/x-shockwave-flash” allowscriptaccess=”always” allowfullscreen=”true” width=”425″ height=”355″></embed></object><div style=”padding:5px 0 12px”>View more <a href=”http://www.slideshare.net/”>presentations</a&gt; from <a href=”http://www.slideshare.net/togar”>Togar Simatupang</a>.</div></div>





ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

2 03 2010

Pengertian Analitycal Hierarchy Process (AHP)

Analitycal Hierarchy Process (AHP) Adalah metode untuk memecahkan suatu situasi yang komplek tidak terstruktur kedalam beberapa komponen dalam susunan yang hirarki, dengan memberi nilai subjektif tentang pentingnya setiap variabel secara relatif, dan menetapkan variabel mana yang memiliki prioritas paling tinggi guna mempengaruhi hasil pada situasi tersebut.

Proses pengambilan keputusan pada dasarnya adalah memilih suatu alternatif yang terbaik. Seperti melakukan penstrukturan persoalan, penentuan alternatif-alternatif, penenetapan nilai kemungkinan untuk variabel aleatori, penetap nilai, persyaratan preferensi terhadap waktu, dan spesifikasi atas resiko. Betapapun melebarnya alternatif yang dapat ditetapkan maupun terperincinya penjajagan nilai kemungkinan, keterbatasan yang tetap melingkupi adalah dasar pembandingan berbentuk suatu kriteria yang tunggal.

Peralatan utama Analitycal Hierarchy Process (AHP) adalah memiliki sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia. Dengan hirarki, suatu masalah kompleks dan tidak terstruktur dipecahkan ke dalam kelomok-kelompoknya dan diatur menjadi suatu bentuk hirarki.

Kelebihan Analitycal Hierarchy Process (AHP)

Kelebihan AHP dibandingkan dengan lainnya adalah :

  1. Struktur yang berhirarki, sebagai konsekwensi dari kriteria yang dipilih, sampai pada subkriteria yang paling dalam
  2. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkosistensi berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh para pengambil keputusan
  3. Memperhitungkan daya tahan atau ketahanan output analisis sensitivitas pengambilan keputusan.

Selain itu, AHP mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah yang multi obyektif dan multi-kriteria yang berdasarkan pada perbandingan preferensi dari setiap elemen dalam hirarki. Jadi, model ini merupakan suatu model pengambilan keputusan yang komprehensif

2.3.3 Prinsip Dasar Pemikiran AHP

Dalam memecahkan persoalan dengan analisis logis eksplisit, ada tiga prinsip yang mendasari pemikiran AHP, yakni : prinsip menyusun hirarki, prinsip menetapkan prioritas, dan prinsip konsistensi logis.

Prinsip Menyusun Hirarki

Prinsip menyusun hirarki adalah dengan menggambarkan dan menguraikan secara hirarki, dengan cara memecahakan persoalan menjadi unsur-unsur yang terpisah-pisah. Caranya dengan memperincikan pengetahuan, pikiran kita yang kompleks ke dalam bagian elemen pokoknya, lalu bagian ini ke dalam bagian-bagiannya, dan seterusnya secara hirarkis.

Penjabaran tujuan hirarki yang lebih rendah pada dasarnya ditujukan agar memperolah kriteria yang dapat diukur. Walaupun sebenarnya tidaklah selalu demikian keadaannya. Dalam beberapa hal tertentu, mungkin lebih menguntungkan bila menggunakan tujuan pada hirarki yang lebih tinggi dalam proses analisis. Semakin rendah dalam menjabarkan suatu tujuan, semakin mudah pula penentuan ukuran obyektif dan kriteria-kriterianya. Akan tetapi, ada kalanya dalam proses analisis pangambilan keputusan tidak memerlukan penjabaran yang terlalu terperinci. Maka salah satu cara untuk menyatakan ukuran pencapaiannya adalah menggunakan skala subyektif.

Prinsip Menetapkan Prioritas Keputusan

Bagaimana peranan matriks dalam menentukan prioritas dan bagaimana menetapkan konsistensi.

  • Menetapkan prioritas elemen dengan membuat perbandingan berpasangan, dengan skala banding telah ditetapkan oleh Saaty ( Yan O., 1995).

Table 2.9 Penetapan Prioritas Elemen dengan Perbandingan Berpasangan

Intensitas Kepentingan Keterangan Penjelasan
1 Kedua elemen sama pentingnya Dua elemen mempunyai pengaruh yang sama besar terhadap tujuan
3 Elemen yang satu sedikit lebih penting dari pada elemen yang lainnya Pengalaman dan penilaian sedikit menyokong satu elemen dibandingkan elemen lainnya
5 Elemen yang satu lebih penting dari pada elemen yang lainnya Pengalaman dan penilaian sangat kuat menyokong satu elemen dibandingkan elemen lainnya
7 Satu elemen jelas lebih penting dari pada elemen lainnya Satu elemen yang kuat dikosong san dominan terlihat dalam praktek
9 Satu elemen mutlak penting dari pada elemen lainnya Bukti yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen lain memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan
2,4,6,8 Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan yang berdekatan Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi diantara dua pilihan
Kebalikan Jika untuk aktivitas I mendapat satu angka disbanding dengan aktivitas j, maka j mempunyai nilai kebalikannya dibanding dengan i

Perbandingan ini dilakukan dengan matriks. Misalkan untuk memilih manajer, hasil pendapat para pakar atau sudah menjadi aturan yang dasar (generic), managerial skill sedikit lebih penting daripada pendidikan, teknikal skill sama pentingnya dengan pendidikan serta personal skill berada diantara managerial dan pendidikan.

Prinsisp Konsistensi Logika

Matriks bobot yang diperoleh dari hasil perbandingan secara berpasangan tersebut, harus mempunyai hubungan kardinal dan ordinal, sebagai berikut:

  • Hubungan kardinal        : aij . ajk = ajk
  • Hubungan ordinal          : Ai>Aj>Aj>Ak, maka Ai>Ak

Hubungan diatas dapat dilihat dari dua hal sebagai berikut:

  1. Dengan melihat preferensi multiplikatif, misalnya jika apel lebih enak 4 kali dari jeruk dan jeruk lebih enak 2 kali dari melon, maka apel lebih enak 8 kali dari melon
  2. Dengan melihat preferensi transitif, misalnya apel lebih enak dari jeruk, dan jeruk lebih enak dari melon, maka apel lebih enak dari melon

Pada keadaan sebenarnya akan terjadi beberapa penyimpangan dari hubungan tersebut, sehingga matriks tersebut tidak konsisten sempurna. Hal ini terjadi karena ketidakkonsistenan dalam preferensi seseorang

Untuk model AHP, matriks perbandingan dapat diterima jika nilai rasio konsisten < 0.1. nilai CR < 0.1 merupakan nilai yang tingkat konsistensinya baik dan dapat dipertanggung jawabkan. Dengan demikian nilai CR merupakan ukuran bagi konsistensi suatu komparasi berpasangan dalam matriks pendapat. Jika indeks konsistensi cukup tinggi maka dapat dilakukan revisi judgement, yaitu dengan dicari deviasi RMS dari barisan (aij dan Wi / Wj ) dan merevisi judgment pada baris yang mempunyai nilai prioritas terbesar

Memang sulit untuk mendapatkan konsisten sempurna, dalam kehidupan misalnya dalam berbagai kehidupan khusus sering mempengaruhi preferensi sehingga keadaan dapat berubah. Jika buah apel lebih disuka dari pada jeruk dan jeruk lebih disukai daripada pisang, tetapi orang yang sama dapat menyukai pisang daripada apel, tergantung pada waktu, musim dan lain-lain. Namun konsistensi sampai kadar tertentu dalam menetapkan perioritas untuk setiap unsur adalah perlu sehingga memperoleh hasil yang sahih dalam dunia nyata. Rasio ketidak konsistenan maksimal yang dapat ditolerir 10 %.

2.7.4 Penggunaan Software Expert Choise Untuk Metode AHP

Expert Choise adalah suatu sistem yang digunakan untuk melakukan analisa, sistematis, dan pertimbangan (justifikasi) dari sebuah evaluasi keputusan yang kompleks. Expert Choice telah banyak digunakan oleh berbagai instansi bisnis dan pemerintah diseluruh dunia dalam berbagai bentuk aplikasi, antara lain:

  • Pemilihan alternatif
  • Alokasi sumber daya
  • Keputusan evaluasi dan upah karyawan
  • Quality Function Deployment
  • Penentuan Harga
  • Perumusan Strategi Pemasaran
  • Evaluasi proses akuisisi dan merger
  • Dan sebagainya

Dengan menggunakan expert choice, maka tidak ada lagi metode coba-coba dalam proses pengambilan keputusan. Dengan didasari oleh Analitycal Hierarchy Process (AHP), penggunaan hirarki dalam expert choice bertujuan untuk mengorganisir perkiraan dan intuisi dalam suatu bentuk logis. Pendekatan secara hierarki ini memungkinkan pengambil keputusan untuk menganalisa seluruh pilihan untuk pengambilan keputusan yang efektif.





REBA (Rapid Entire Body Assessment)

2 03 2010

Rapid Entire Body Assessment (REBA) adalah sebuah metode dalam bidang ergonomi yang digunakan secara cepat untuk menilai postur leher, punggung, lengan, pergelangan tangan, dan kaki seorang pekerja. REBA memiliki kesamaan yang mendekati metode RULA (Rapid Upper Limb Assessment), tetapi metode REBA tidak sebaik metode RULA yang menunjukkan pada analisis pada keunggulan yang sangat dibutuhkan dan untuk pergerakan pada pekerjaan berulang yang diciptakan, REBA lebih umum, dalam penjumlahan salah satu sistem baru dalam analisis yang didalamnya termasuk faktor-faktor dinamis dan statis bentuk pembebanan interaksi pembebanan perorangan, dan konsep baru berhubungan dengan pertimbangan dengan sebutan “The Gravity Attended” untuk mengutamakan posisi dari yang paling unggul.

Metode REBA telah mengikuti karakteristik, yang telah dikembangkan untuk memberikan jawaban untuk keperluan mendapatkan peralatan yang bisa digunakan untuk mengukur pada aspek pembebanan fisik para pekerja. Analisa dapat dibuat sebelum atau setelah sebuah interferensi untuk mendemonstrasikan resiko yang telah dihentikan dari sebuah cedera yang timbul. Hal ini memberikan sebuah kecepatan pada penilaian sistematis dari resiko sikap tubuh dari seluruh tubuh yang bisa pekerja dapatkan dari pekerjaannya.

Pengembangan dari percobaan metode REBA adalah:

  1. Untuk mengembangkan sebuah sistem dari analisa bentuk tubuh yang pantas untuk resiko musculoskeletal pada berbagai macam tugas
  2. Untuk membagi tubuh kedalam bagian-bagian untuk pemberian kode individual, menerangkan rencana perpindahan
  3. Untuk mendukung sistem penilaian aktivitas otot pada posisi statis (kelompok bagian, atau bagian dari tubuh), dinamis (aksi berulang, contohnya pengulangan yang unggul pada veces/minute, kecuali berjalan kaki), tidak cocok dengan perubahan posisi yang cepat.
  4. Untuk menggapai interaksi atau hubungan antara seorang dan beban adalah penting dalam manipulasi manual, tetapi itu tidak selalu bisa dilakukan dengan tangan.
  5. Termasuk sebuah faktor yang tidak tetap dari pengambilan untuk manipulasi beban manual
  6. Untuk memberikan sebuah tingkatan dari aksi melalui nilai akhir dengan indikasi dalam keadaan terpaksa

Metode REBA juga dilengkapi dengan faktor coupling, beban eksternal aktivitas kerja. Dalam metode ini, segmen-segmen tubuh dibagi menjadi dua group, yaitu group A dan group B. Group A terdiri dari punggung (batang tubuh), leher, dan kaki. Sedangkan group B terdiri dari lengan atas, lengan bawah, dan pergelangan tangan. Penilaian postur kerja pada masing-masing group tersebut didasarkan pada postur-postur pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Postur Tubuh Group A dan B

TRUNK
Movement Score Correction
Raised 1 To add

+ 1 if there is torsion or roll

0o-20o flexion

0o-20o extension

2
20o-60oflextion

>20o extention

3
>60o flextiom 4
NECK
Movement Score Correction
0o-20o flexion 1 To add

+ 1 if there is torsion or roll

0o-20o flexion or   extention 2

Tabel 2.1 (Lanjutan)

LEGS
Movement Score Correction
Bilateral, walking or seated support 1 To add

+ 1 if there is flexion of knees between 30o and 60o

Unilateral support, light support or unstabel position 2 To add

+ 2 if knees are flexionadas more of 60o (except for sedente position)

ARMS
Position Score Correction
0o-20o flexion or extension 1 To add

+ 1 if there is torsion or roll

+1 elevation of the shoulder

–                     1 if there is support or  position in favor of the gravity

>20o extention 2
20o-45oflextion or extention 3
>90o flextiom 4
FORERMS
Position Score Correction
60o-100o flexion 1 To add

+ 1 if there is torsion or roll

<60o flexion

>100o extention

2

Tabel 2.1 (Lanjutan)

WRISTS
Position Score Correction
0o-15o flexion extension 1 To add

+1 if there is torsion or lateral deviation

>15o flexion extension 2

Sumber: Hignett, 2000

Penentuan skor REBA, yang mengindikasikan level resiko dari postur kerja, dimulai dengan menggunakan skor A untuk postur-postur group A dengan skor beban (load) dan skor B untuk postur-postur group B ditambah dengan skor coupling dengan mengacu pada tabel 2.2, tabel 2.3, tabel 2.4, dan tabel 2.5. kedua skor tersebut (skor A dan B) digunakan untuk menentukan skor C (lihat tabel 2.6). adapun gambaran selengkapnya dapat dilihat pada gambar 2.2. dari nilai REBA dapat diketahui level resiko pada sistem muscolusceletal dan tindakan yang perlu dilakukan untuk mengurangi resiko tersebut berdasarkan klasifikasi tabel 2.9.

Tabel 2.2 Tabel A

Punggung
1 2 3 4 5
Leher=1 Kaki
1 1 2 2 3 4
2 2 3 4 5 6
3 3 4 5 6 7
4 4 5 6 7 8
Leher=2 Kaki
1 1 3 4 5 6
2 2 4 5 6 7
3 3 5 6 7 8
4 4 6 7 8 9

Sumber: Hignett, 2000

Tabel 2.2 (Lanjutan)

Punggung
1 2 3 4 5
Leher=3 Kaki
1 3 4 5 6 7
2 3 5 6 7 7
3 5 6 7 8 8
4 6 7 8 9 9

Sumber: Hignett, 2000

Tabel. 2.3 Skor Berat Beban yang Diangkat

0 1 2 +1
<5 Kg 5-10 Kg >10 Kg Penambahan beban yang secara tiba-tiba atau secara cepat

Sumber: Hignett, 2000

Tabel 2.4 Tabel B

Lengan Atas
1 2 3 4 5 6
Lengan Bawah = 1 Pergelangan
1 1 1 3 4 6 7
2 2 2 4 5 7 8
3 2 3 5 5 8 8
Lengan Bawah = 2 Pergelangan
1 1 2 4 5 7 8
2 2 3 5 6 8 9
3 3 4 6 7 8 9

Sumber: Hignett, 2000

Tabel 2.5 Skor Coupling

0

Good

1

Fair

2

Poor

3

Unaccepttabel

Pegangan pas & kuat ditengah, genggaman kuat Pegangan tangan bisa diterima tapi tidak ideal atau coupling lebih sesuai digunakan oleh bagian lain dari tubuh Pegangan tangan tidak bisa diterima walaupun memungkinkan Dipaksakan, genggaman yang tidak aman,tanpa pegangan, coupling tidak sesuai digunakan oleh tubuh

Sumber: Hignett, 2000

Tabel 2.6 Tabel C

Score A
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Score B 1 1 1 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
2 1 2 3 4 4 6 7 8 9 10 11 12
3 1 2 3 4 4 6 7 8 9 10 11 12
4 2 3 3 4 4 6 7 9 10 11 11 12
5 3 4 4 5 6 8 9 10 10 11 12 12
6 3 4 5 6 7 8 9 10 10 11 12 12
7 4 5 6 7 8 9 9 9 11 11 12 12
8 5 6 7 8 8 9 10 10 11 12 12 12
9 6 6 7 8 9 10 10 10 11 12 12 12
10 7 7 8 9 9 10 11 11 12 12 12 12
11 7 7 8 9 9 10 11 11 12 12 12 12
12 7 8 8 9 9 10 11 11 12 12 12 12

Sumber: Hignett, 2000

Tabel 2.7 Activity Score

+1 : 1 atau lebih bagian tubuh statis, ditahan lebih dari satu menit

+2 : Penggulangan gerakan dalam rentang waktu singkat, diulang lebih dari 4 kali permenit (tidak termasuk berjalan)

+3 : Gerakan menyebabkan perubahan atas pergersersan postur yang cepat dari posisi awal

Sumber: Hignett, 2000

Tabel 2.8 Tabel Level Resiko danTindakan

Action Level Skor REBA Level Resiko Tindakan Perbaikan
0 1 Bila diabaikan Tidak perlu
1 2-3 Rendah Mungkin Perlu
2 4-7 Sedang Perlu
3 8-10 Tinggi Perlu Segera
4 11-15 Sangat tinggi Perlu Saat ini juga

Sumber: Hignett, 2000

Gambar 2.2 Lembar Periksa Tahapan Skor REBA

Sumber: Hignett dan McAtamaney, 2000





ANTROPOMETRI

2 03 2010

Definisi Antropometri

Antropometri merupakan bagian dari ergonomi yang secara khusus mempelajari ukuran tubuh yang meliputi dimensi linear, serta, isi dan juga meliputi daerah ukuran, kekuatan, kecepatan dan aspek lain dari gerakan tubuh. Secara devinitif antropometri dapat dinyatakan sebagai suatu studi yang berkaitan dengan ukuran dimensi tubuh manusia meliputi daerah ukuran, kekuatan, kecepatan dan aspek lain dari gerakan tubuh manusia, menurut Stevenson (1989) antropometri adalah suatu kumpulan data numeric yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia ukuran, bentuk, dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah desain.

Salah satu  pembatas kinerja tenaga kerja. Guna mengatasi keadaan tersebut diperlukan data antropometri tenaga kerja sebagai acuan dasar desain sarana prasarana kerja. Antropometri sebagai salah satu disiplin ilmu yang digunakan dalam ergonomi memegang peran utama dalam rancang bangun sarana dan prasarana kerja.

Antropometri dapat dibagi menjadi:

  1. Antripometri Statis

Antropometri statis merupakan ukuran tubuh dan karakteristik tubuh dalam keadaan diam (statis) untuk posisi yang telah ditentukan atau standar

Contoh: Tinggi Badan, Lebar bahu

  1. Antropometri Dinamis

Antropometri dinamis adalah ukuran tubuh atau karakteristik tubuh dalam keadaan bergerak, atau memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi saat pekerja tersebut melaksanakan kegiatan.

Contoh: Putaran sudut tangan, sudut putaran pergelangan kaki.

Data Antopometri

Data antropometri adalah data-data dari hasil pengukuran yang digunakan sebagai data untuk perancangan peralatan. Mengingat bahwa keadaan dan ciri dapat membedakan satu dengan yang lainnya, maka dalam perancangan yang digunakan data antropometri terdapat tiga prinsip yang harus diperhatikan yaitu (Wignjosoebroto, 2003):

  1. Prinsip perancangan fasilitas berdasarkan individu ekstrim (minimum atau maksimum)

Prinsip ini digunakan apabila kita mengharapkan agar fasilitas yang akan di rancang tersebut dapat di pakai dengan enak dan nyaman oleh sebagian besar orang-orang yang akan memakainya.

Contohnya: Ketinggian kontrol maksimum digunakan tinggi jangkauan keatas dari orang pendek, ketinggian pintu di sesuaikan dengan orang yang tinggi dan lain-lain.

  1. Prinsip perancangan fasilitas yang bisa disesuaikan.

Prinsip digunakan untuk merancang suatu fasilitas agar fasilitas tersebut dapat menampung atau bisa dipakai dengan enak dan nyaman oleh semua orang yang mungkin memerlukannya. Biasanya rancangan ini memerlukan biaya lebih mahal tetapi memiliki fungsi yang lebih tinggi.

Contohnya: Kursi kemudi yang bisa di atur maju-mundur dan kemiringan sandarannya, tinggi kursi sekretaris atau tinggi permukaan mejanya.

  1. Prinsip perancangan fasilitas berdasarkan harga rata rata para pemakainya. Prinsip ini hanya di gunakan apabila perancangan berdasarkan harga ekstrim tidak mungkin dilaksanakan dan tidak layak jika menggunakan prinsip perancangan fasilitas yang bisa disesuaikan. Prinsip berdasarkan harga ekstrim tidak mungkin dilaksanakan bila lebih banyak rugi dari pada untungnya, ini berarti hanya sebagian kecil dari orang-orang yang merasa enak dan nyaman ketika menggunakan fasilitas tersebut.

Kenyataan menunjukan bahwa terdapat perbedaan atribut/ukuran fisik antara satu manusia dengan manusia yang lain. Perbedaan antara satu populasi dengan populasi yang lain dikarenakan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi data antropometri, yaitu :

  • Umur
  • Jenis kelamin
  • Ras dan suku bangsa
  • Jenis pekerjaan

Dalam rangka untuk mendapatkan suatu rancangan yang optimum dari suatu ruang dan fasilitas akomodasi maka hal-hal yang harus diperhatikan adalah faktor- seperti panjang dari suatu dimensi tubuh manusia baik dalam posisi statis maupun dinamis selain itu juga harus didapatkan data-data yang sesuai dengan tubuh manusia. Pengukuran tersebut adalah relatif mudah untuk didapat jika diaplikasika pada data perorangan. Akan tetapi semakin banyak jumlah manusia yang diukur dimensi tubuhnya, maka akan semakin kelihatan betapa besar variansinya antara tubuh dengan tubuh lainnya baik secara keseluruhan tubuh maupun segmennya.

Antropometri Dan Aplikasinya Dalam Perancangan Fasilitas

Istilah antropometri berasal dari “anthro” yang berarti manusia dan “metri” yang berarti ukuran. Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai suatu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Antropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan ergonomi dalam proses perancangan produk maupun sistem kerja yang akan memerlukan interaksi manusia. Data antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal, (Menurut Wignjosoebroto, 2003):

  1. Perancangan area kerja (work station, mobile, interior, dll)
  2. Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas dan sebagainya
  3. Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi, meja, dan sebagainya.
  4. Perancangan lingkungan kerja fisik

Jadi dapat disimpulkan bahwa data antropometri dapat menentukan bentuk, ukuran dan dimensi yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan mengoperasikanya atau menggunakan produk tersebut. Dalam kaitan ini maka perancangan produk harus mampu mengakomodasikan dimensi dari populasi terbesar yang akan menggunakan produk hasil rancangan tersebut.

Secara umum sekurang-kurangnya 90%-95% dari populasi yang menjadi target dalam kelompok pemakai suatu produk haruslah dapat menggunakan produk tersebut.

Untuk mendesain peralatan kerja secara ergonomi yang digunakan dalam lingkungan sehari-hari atau mendesain peralatan yang ada pada lingkungan seharusnya disesuaikan dengan manusia di lingkungan tersebut. Apabila tidak ergonomis akan menimbulkan berbagai dampak negatif bagi manusia tersebut. Dampak negatif bagi manusia tersebut akan terjadi dalam jangka waktu pendek (short term) maupun jangka panjang (long term).

Prinsip Perancangan Produk Atau Fasilitas Dengan Ukuran Rata-Rata Data Antropometri

Dalam hal ini rancangan produk didasarkan terhadap rata-rata ukuran manusia. Problem pokok yang dihadapi dalam hal ini justru sedikit sekali mereka yang berbeda dalam ukuran rata-rata, sedangkan bagi mereka yang memiliki ukuran ekstrim akan dibuatkan rencana tersendiri.

Berkaitan dengan aplikasi data antropometri yang diperlukan dalam proses perancangan produk ataupun fasilitas kerja, maka ada beberapa sarana/ rekomendasi yang bisa diberikan sesuai langkah-langkah sebagai berikut (Nurmianto, 2003):

  1. Pertama kali terlebih dahulu harus ditetapkan anggota tubuh mana yang nantinya akan difungsikan untuk mengoperasikan rencana tersebut
  2. Tentukan dimensi tubuh yang penting dalam proses perancangan tersebut, dalam hal ini perlu juga diperhatikan apakah harus menggunakan data dimensi tubuh statis ataukah data dimensi tubuh dinamis
  3. Selanjutnya tentukan populasi terbesar yang harus diantisipasi, diakomodasikan dan menjadi target utama pemakai rancangan produk tersebut. Hal ini lazim dikenal sebagai “segmentasi pasar” seperti produk mainan anak-anak, peralatan rumah tangga untuk wanita, dll.
  4. Tetapkan prinsip ukuran yang harus diikuti semisal apakah rancangan tersebut untuk ukuran individual yang ekstrim, rentang ukuran yang fleksibel (adjustabel) ataukah ukuran rata-rata.
  5. Pilih prosentase populasi yang harus diikuti 90th, 95th, 99th ataukah nilai persentil yang lain yang dikehendaki
  6. Untuk setiap dimensi tubuh yang telah diidentifikasikan selanjutnya pilih/tetapkan nilai ukurannya dari tabel data antropometri yang sesuai. Aplikasikan data tersebut dan tambahkan faktor kelonggaran (allowance) bila diperlukan seperti halnya tambahan ukuan akibat tebalnya pakaian yang harus dikenakan oleh operator, pemakaian sarung tangan dan lain-lain.

Selanjutnya untuk menjelaskan mengenai data antopometri untuk bisa diaplikasikan dalam berbagai rancangan produk ataupun fasilitas kerja, maka gambar berikut akan memberikan informasi tentang berbagai macam anggota tubuh yang perlu diukur.

Gambar 2.1. Antropometri Tubuh Manusia

Sumber: Stevenson; Eko Nurmianto, 2003

Keterangan gambar:

1     =  Dimensi tinggi tubuh dalam posisi tegak (dari lantai s/d ujung kepala)

2     =  Tinggi mata dalam posisi berdiri tegak

3     =  Tinggi bahu posisi berdiri tegak

4     =  Tinggi siku dalam posisi berdiri tegak (siku tegak lurus)

5     =  Tinggi kepalan tangan yang terjulur lepas dalam dalam posisi berdiri tegak

6     = Tinggi tubuh dalam posisi duduk (diukur dari atas tempat duduk/pantat sampai dengan kepala

7     =  Tinggi mata dalam posisi duduk

8     =  Tinggi bahu dalam posisi duduk

9     =  Tinggi siku dalam posisi duduk (siku tegak lurus)

10   =  Tebal atau lebar paha

11   =  Panjang paha yang diukur dari ujung pantat sampai dengan ujung lutut

12   =  Panjang paha yang diukur dari pantat sampai dengan bagian belakang dari lutut/betis

13   =  Tinggi lutut yang bisa diukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk

14   = Tinggi tubuh dalam posisi duduk yang diukur dari lantaisampai dengan paha

15   =  Lebar dari bahu (bisa diukur dalam posisi berdiri ataupun duduk)

16   =  Lebar pinggang/pantat

17   =  Lebar dari dada dalam keadaan membusung

18   =  Lebar perut

19   = Panjang siku yang diukur dari pergelangan sampai dengan ujung jari-jari dalam posisi tegak

20   =  Lebar kepala

21   = Panjang tangan diukur dari pergelangan sampai dengan ujung jari-jari dalam posisi tegak

22   =  Lebar telapak tangan

23   = Lebar tangan dalam posisi tangan terbentang lebar-lebar kesamping kiri-kanan

24   = Tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak, diukur dari lantai sampai dengan telapak tangan yang terjangkau harus keatas (vertikal)

25   = Tinggi jangkauan tangan dalam posisi duduk tegak, diukur seperti no.24 tetapi dalam posisi duduk

26   = Jarak tangan yang terjulur kedepan diukur dari bahu sampai ujung jari tangan

Data antropometri dibuat sesuai dengan ukuran tubuh laki-laki dan perempuan, harga rata-rata, standard deviasi serta persentil tertentu (5th-95th dan sebagainya)





PERANCANGAN SISTEM KERJA PEMBUATAN KERIPIK BALADO ROHANA KUDUS DENGAN PERTIMBANGAN ASPEK ERGONOMI

1 12 2009

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Pekerja merupakan aset penting bagi terjaminnya kelangsungan hidup perusahaan, tetapi seringkali perusahaan kurang memperhatikan kebutuhan dan kepentingan pekerja. Masih banyaknya perusahaan yang proses produksinya tidak didukung oleh metode yang standard dan fasilitas kerja yang ergonomis menyebabkan pekerja sering mengalami keluhan-keluhan pada bagian tubuhnya. Keluhan-keluhan yang timbul diakibatkan tidak adanya fasilitas kerja yang ergonomis dan sesuai dengan postur tubuh pekerja sehingga menyebabkan pekerja terasa kurang nyaman.
Kenyamanan dalam bekerja merupakan salah satu hal yang penting dalam proses produksi, dengan memperhatikan kenyamanan dalam bekerja maka akan dapat mengurangi terjadinya keluhan-keluhan dalam bekerja seperti pegal-pegal otot leher, punggung dan sebagainya.
Berdasarkan pengamatan awal di usaha keripik balado rohana kudus, proses produksinya dilakukan secara manual dimana peralatan yang digunakan adalah tungku, sendok penggorengan, kuali, bak pencucian, dan sebagainya. Untuk pencucian ubi dilakukan di bak pencucian dengan posisi yang membungkuk, hal ini menyebabkan keluhan-keluhan bagi pekerja, begitu juga untuk bagian tungku penggorengan dan pembuatan sambal, posisi pekerja dalam bekerja yaitu berdiri dan agak membungkuk, dan berhadapan langsung dengan tungku yang menimbulkan paparan panas yang cukup tinggi, untuk satu kali proses penggorengan diperlukan waktu rata-rata ± 6 menit, hal ini dapat membuat pekerja harus mengeluarkan tenaga ekstra selama proses produksi berlangsung.
Dalam melakukan pekerjaannya, pekerja banyak mengalami keluhan-keluhan seperti pegal-pegal setelah melakukan pekerjaan, cepat lelah, nyeri otot dan sebagainya, sehingga berdampak buruk terhadap kinerjanya. Selain itu adanya suhu panas dan sikap kerja yang kurang baik juga mempengaruhi kualitas kerja. Jika hal ini tidak diatasi dengan segera maka kenyamanan dalam bekerja tidak dapat diciptakan serta sistem kerja yang mempertimbangkan kemampuan dan keterbatasan manusia dalam melakukan pekerjaannya juga tidak akan tercapai, sehingga akan merugikan perusahaan dan pekerja itu sendiri.

1.2 PERUMUSAN MASALAH
Pada bagian penggorengan ini pekerja bekerja dengan posisi agak membungkuk sehingga menimbulkan keluhan-keluhan seperti cepat lelah, sakit punggung dan lengan, pada tungku penggorengan ini menggunakan bahan bakar minyak tanah, dimana pada bagian tungku pembakaran ini menimbulkan paparan panas yang cukup tinggi. Dalam aktivitasnya pekerja bagian penggorengan ini, bekerja berhadapan langsung dengan tungku penggorengan, dan untuk satu kali proses penggorengan membutuhkan waktu ± 6 menit, hal ini membuat pekerja harus mengeluarkan tenaga ekstra selama proses produksi berlangsung.
Untuk sekali pengangkatan bahan baku yang akan digoreng, operator harus membungkuk untuk mengambil bahan baku ubi yang akan digoreng dari bagian pencucian, pengangkatan dengan bantuan bak besar dan didekatkan dibagian tungku penggorengan.
Kondisi dan posisi pekerja yang seperti ini dapat menimbulkan rasa sakit pada pinggang dan lengan, dan hal ini jelas akan mengurangi kemampuan operator dalam bekerja. Dibagian penggorengan ini disamping menimbulkan paparan panas yang cukup tinggi juga penataan bahan baku yang kurang teratur serta kurang higienis serta penanempatan peralatan kerja yang tidak jelas perlu diatur dan ditata ulang kembali, meja kerja tungku penggorengan yang perlu dikaji dan dirancang kembali supaya lebih ergonomis sehingga kenyamanan dalam bekerja dapat tercipta.
Beranjak dari masalah ini, maka Tugas Akhir ini membahas dan memfokuskan dengan judul “Perancangan Sistem Kerja Bagian Penggorengan Pembuatan Keripik Balado Rohana Kudus Dengan Pertimbangan Aspek Ergonomi”.

1.3 TUJUAN PENELITIAN
Adapun Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Memperbaiki sikap kerja operator bagian penggorengan
2. Memperbaiki metode kerja untuk mengurangi beban kerja operator yang terjadi saat bekerja
3. Menata peralatan dan posisi bahan baku serta merancang meja kerja yang ergonomis
4. Meningkatkan produktivitas tenaga kerja bagian penggorengan

1.4 BATASAN MASALAH
Agar dapat dipahami dan tetap terarah serta mencapai tujuan, maka diperlukan beberapa pembatasan masalah, yaitu sebagai berikut:
1. Penelitian difokuskan hanya pada bagian penggorengan
2. Data antropometri yang diambil adalah data ukuran tubuh pekerja di Usaha Keripik Balado Rohana Kudus Padang dan data dari balai Hiperkes padang.
3. Analisa rancangan berdasarkan aspek ergonomi
4. Penelitian terbatas pada perancangan fasilitas dan metode kerja yang ergonomi

1.5 ASUMSI
1. Kemampuan semua operator diasumsikan sama
2. Keadaan yang diteliti adalah keadaan sekarang
3. Pekerja pembuat keripik balado bekerja dengan kondisi yang normal

1.6 SISTEMATIKA PENULISAN
Untuk mempermudah dalam penyusunan dan pemahaman laporan tugas akhir ini akan dibagi menjadi beberapa bab dan sub bab, dan isi dari masing-masing bab dapat diuraikan sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan tentang latar belakang masalah yang diangkat, perumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, asumsi, dan sistematika penulisan skripsi.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini menyangkut tinjauan pustaka yang berisi tentang teori-teori dan pemikiran yang digunakan sebagai landasan dalam pemecahan masalah penelitian.
BAB III PENGKAJIAN SISTEM
Berisikan gambaran umum tentang perusahaan seperti sejarah perusahaan, proses produksi. Selain itu juga mengkaji keadaan sistem kerja pada saat itu dan fakta-fakta yang menunjukkan perlunya dilakukan perancangan berdasarkan analisis permasalahan aktifitas pendorong manual yang dilakukan operator.
BAB IV PROSES PERANCANGAN
Berisi tentang proses dan tahap-tahap dalam perancangan sikap kerja untuk mengatasi permasalahan yang muncul. Pada bab ini juga memuat pengumpulan data-data yang diperoleh dan diperlukan dalam proses perancangan, seperti berisi proses perhitungan dan metoda-metoda yang digunakan dalam pengolahan data, sehingga diperoleh suatu rancangan sikap kerja operator.
BAB V EVALUASI HASIL RANCANGAN
Bagian ini berisikan tentang evaluasi yang dilakukan terhadap hasil rancangan yang berorientasi pada tujuan perancangan sikap kerja. Apabila hasil rancangan sudah memenuhi tujuan dari perancangan sikap kerja tersebut.
BAB V PENUTUP
Bagian ini berisikan kesimpulan dan saran dari analisa yang telah diperoleh dengan rangkuman yang jelas, akurat dan ringkas dari pemecahan permasalahan perancangan sistem kerja dan solusi yang tepat terhadap permasalahan proses produksi.

DAFTAR PUSTAKA

Barnes, M Ralph, Motion And Time Study Design And Measurement of Work, Seventh Edition, Chichhester New York: John wiley and Sons

Fitria, Diesrita. TA 2007. Perancangan Sitem Kerja Pembuatan Keripik Sanjai Berdasarkan Hasil Analisa Metode REBA (Rapid Entire Body Assessment). Padang: Teknik Industri UBH Padang.

http://www.depkes.go.id [online]

http://www.arif-sugiri.blogspot.com/2007 [online]

Nurmianto, Eko. 2003. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Edisi Pertama. Surabaya: Guna Widya.

Suma’mur. Ergonomi Untuk Produktivitas Kerja. Jakarta: CV.Haji Masagung
Sutalaksana, Iftikar. 1979. Teknik Tata Cara Kerja, Edisi Pertama. Bandung: Teknik Industri-ITB

Sutalaksana, Iftikar. 2006. Teknik Perancangan Sistem Kerja, Edisi Kedua. Bandung: Teknik Industri-ITB

Tim Asistem Lab. Statistik Industri UBH. 2006. Buku Pandual Laboratorium Statistik Industri. Padang: Tekik Industri UBH Padang.

Umar, Husein. (1997). Metode Penelitian Aplikasi Dalam Pemasaran. Jakarta: CV. Haji Masagung.

Wignjosoebroto, Sritomo.2003.Ergonomi Studi Gerak dan Waktu. Surabaya: Guna Widya.

Yusra, Wazir. TA 2007. Perancangan Ulang Peralatan Pemotong Singkong Yang Ergonomis Pada Industri Keripik Balado Rohana Kudus. Padang: Teknik Industri UBH Padang





Industrial Engineering

6 10 2009

Kompetensi Inti Teknik Industri

June 26, 07

Teknik Industri (Industrial Engineering, IE). Seorang adik mahasiswa S1 (IE-er) pernah menanyakan ke saya, sebenarnya apa sih kompetensi yang harus dimiliki seorang IE? Baca Selengkapnya