6 TIPS BELAJAR AGAMA

6 03 2010

.fullpost{display:inline6 TIPS DALAM BELAJAR AGAMA
Sesungguhnya hal paling berharga untuk diwariskan berdasarkan kesepakatan penduduk bumi adalah ilmu. Dan yang dimaksud dengan ilmu disini adalah Ilmu syar’i (yaitu ilmu agama) yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Rabbnya Ta’ala. Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Sesungguhnya para ‘ulama adalah pewaris para nabi. Sesunggungguhnya para nabi itu tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham. Hanyalah para nabi itu mewariskan al-ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, berarti ia telah mengambil jumlah yang banyak.” [Diriwayatkan dari shahabat Abu Ad-Darda’ Radhiyallah ‘anhu, HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi]


Seorang hamba tidak mengetahui apa yang dicintai Allah dan diridhoiNya kecuali melalui jalan para Rasul, untuk itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan untuk menuntut ilmu. Beliau bersabda :
“Barang siapa menití jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkannya jalan menuju syurga.”
Orang yang menuntut ilmu syar’i yang dapat mendekatkannya kepada Allah adalah orang yang mempunyai cita-cita tinggi, tidak peduli dengan hal yang remeh. Akan tetapi, menuntut ilmu tidak akan diperoleh seseorang melainkan apabila telah terkumpul padanya beberapa sifat yang telah disebutkan para ulama.
Sifat-sifat itu diantaranya ialah:
1. Kecerdasan
Ilmu tidak diberikan kepada orang bodoh.Dan diantara tanda-tanda kecerdasan penuntut ilmu yaitu memulai hal yang kecil sebelum yang besar. Sebagaimana disebutkan Bukhari pada firman Allah :
“…akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani.”(Al imran : 79)
Yang dimaksud rabbani adalah orang yang mengajarkan dari hal yang kecil sebelum hal yang besar (kecerdasan dalam menuntut ilmu meliputi adab menuntut ilmu dengan memulai belajar secara bertahap, dari yang kecil dan utama menuju ke yang besar dan hal-hal yang menjadi cabang ilmu pokoknya, red). Dia mulai dari apa yang bersifat fardlu ‘ain baginya, maka ia mulai dengan tauhid. Wajib bagi penuntut ilmu mempunyai kecerdasan, karena kecerdasan ini akan memberinya manfaat dalam mendapatkan ilmu.
2. Bersungguh-sungguh
Suatu hal yang paling besar yang banyak diperhatikan oleh penuntut ilmu adalah waktu. Waktu merupakan umur. Maka ulama kita –semoga Allah merahmati mereka- adalah orang yang paling perhatian dalam masalah waktu.
Seorang imam terpercaya Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim Ar Rozi berkata : ”Kami memasuki Mesir dan menetap selama tujuh bulan. Kami tidak pernah merasakan kuah. Pada siang hari kami belajar kepada Syeikh (guru), dan pada malam harinya kami menyalin materi”. Kemudian dia berkata, ”Lalu kami pergi untuk mengikuti pelajaran salah satu syeikh, ketika sampai di sana kami mendapati syeikh sedang sakit. Lalu kami hendak makan dan membeli ikan. Setelah itu kami membawanya ke rumah tersebut dan ternyata sudah jadwalnya syeikh yang lain untuk mengajar. Lalu kami tinggalkan ikan tersebut dan kami berangkat.” Setelah selesai pelajaran, dia berkata : ”Kami tidak sempat memanaskannya sehingga kami memakannya dalam keadaan mentah.” Hal ini menunjukkan perhatian mereka yang besar terhadap waktu.
3. Merasa membutuhkan
Meskipun engkau telah memperoleh ilmu, jangan mengira bahwa dirimu berada di atas segalanya. Merasa membutuhkan adalah hal yang penting bagi penuntut ilmu dengan selalu merasa bahwa dia belum mencapai sesuatu. Imam Bukhori, seorang ulama besar menceritakan tentang muridnya Imam Tirmidzi.
Betapa indahnya perkataan Sufyan Ats Tsauri : Seseorang tidak akan mulia sampai mengambil ilmu dari orang yang lebih pandai darinya dan dari orang yang semisalnya dan yang berada di bawahnya.”
Merasa membutuhkan bagi seorang penuntut ilmu itu sangat penting. Dasarnya adalah tawadlu dan menjaga jiwa.
4. Ghurbah (mengasingkan diri )
Ghurbah di sini mempunyai dua makna:
– Melakukan perjalanan jauh untuk menuntut ilmu.Yaitu kamu bepergian dan meningggalkan keluarga dan tempat tinggalmu untuk menuntut ilmu. Perjalanan ini merupakan sesuatu kebanggaan para ulama terdahulu terutama ulama hadits. Apakah di antara kita saat ini ada yang memiliki keinginan yang kuat meski berada di kejauhan ketika mendengar hadits, ”Barangsiapa yang mengatakan Lailaha illallah Muhammad Rasulullah, dibukakan baginya kedelapan pintu surga.”
– Tidak berkumpul dengan manusia, (kecuali hanya berkumpul dengan sesama penuntut ilmu, red). Yaitu sesungguhnya teman-temanmu yang bersamamu dalam menghabiskan waktu adalah para penuntut ilmu. Sehingga engkau merasa asing jika berada di suatu tempat yang penduduknya bukan penuntut ilmu.
5. Bimbingan Guru
Mengambil ilmu dari para guru (Syeikh / ustadz) memberimu 3 faedah :
– Mempersingkat waktu.Kitab yang biasa engkau baca dalam waktu satu bulan,maka dengan bimbingan guru dapat diringkas hanya dalam waktu satu pekan saja dengan ringkasan yang baik.
– Meluruskan pemahaman yang keliru
– Mengajarkan adab.
Maka merendahlah kamu di hadapan guru meskipun engkau memiliki ilmu yang tidak dimilikinya. Betapa indahnya apa yang dikatakan oleh Mujahid bin Jabr rahimahullah, ”Tidak akan memperoleh ilmu dua golongan, orang yang malu dan orang yang takabbur.”
6. Waktu yang lama
Menuntut ilmu itu dalam waktu yang lama merupakan hal yang sangat penting bagi penuntut ilmu. Penuntut ilmu itu tidak boleh terburu-buru dan merasa cukup dengan sedikit dari apa yang sudah dipelajarinya. Dan tidak boleh merasa cukup dengan membaca buku saja. Maka wajib baginya untuk menuntut ilmu sepanjang umur dan waktu.

(http://kebunhidayah.wordpress.com/2009/12/24/6-tips-dalam-belajar-agama/)

Subscribe

–>

  • Home
  • Semua Posting
  • Artikel
  • Dakwah
  • Lirik
  • Parkour
  • Pendakian/Climb
  • Video
  • Yamakasi
  • Powered By

    Free XML Skins for Blogger

    Powered by Blogger

    6 Tips Dalam Belajar Agama

    .fullpost{display:inline;}Sesungguhnya hal paling berharga untuk diwariskan berdasarkan kesepakatan penduduk bumi adalah ilmu. Dan yang dimaksud dengan ilmu disini adalah Ilmu syar’i (yaitu ilmu agama) yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Rabbnya Ta’ala. Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
    “Sesungguhnya para ‘ulama adalah pewaris para nabi. Sesunggungguhnya para nabi itu tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham. Hanyalah para nabi itu mewariskan al-ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, berarti ia telah mengambil jumlah yang banyak.” [Diriwayatkan dari shahabat Abu Ad-Darda’ Radhiyallah ‘anhu, HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi]


    Seorang hamba tidak mengetahui apa yang dicintai Allah dan diridhoiNya kecuali melalui jalan para Rasul, untuk itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan untuk menuntut ilmu. Beliau bersabda :
    “Barang siapa menití jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkannya jalan menuju syurga.”
    Orang yang menuntut ilmu syar’i yang dapat mendekatkannya kepada Allah adalah orang yang mempunyai cita-cita tinggi, tidak peduli dengan hal yang remeh. Akan tetapi, menuntut ilmu tidak akan diperoleh seseorang melainkan apabila telah terkumpul padanya beberapa sifat yang telah disebutkan para ulama.
    Sifat-sifat itu diantaranya ialah:
    1. Kecerdasan
    Ilmu tidak diberikan kepada orang bodoh.Dan diantara tanda-tanda kecerdasan penuntut ilmu yaitu memulai hal yang kecil sebelum yang besar. Sebagaimana disebutkan Bukhari pada firman Allah :
    “…akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani.”(Al imran : 79)
    Yang dimaksud rabbani adalah orang yang mengajarkan dari hal yang kecil sebelum hal yang besar (kecerdasan dalam menuntut ilmu meliputi adab menuntut ilmu dengan memulai belajar secara bertahap, dari yang kecil dan utama menuju ke yang besar dan hal-hal yang menjadi cabang ilmu pokoknya, red). Dia mulai dari apa yang bersifat fardlu ‘ain baginya, maka ia mulai dengan tauhid. Wajib bagi penuntut ilmu mempunyai kecerdasan, karena kecerdasan ini akan memberinya manfaat dalam mendapatkan ilmu.
    2. Bersungguh-sungguh
    Suatu hal yang paling besar yang banyak diperhatikan oleh penuntut ilmu adalah waktu. Waktu merupakan umur. Maka ulama kita –semoga Allah merahmati mereka- adalah orang yang paling perhatian dalam masalah waktu.
    Seorang imam terpercaya Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim Ar Rozi berkata : ”Kami memasuki Mesir dan menetap selama tujuh bulan. Kami tidak pernah merasakan kuah. Pada siang hari kami belajar kepada Syeikh (guru), dan pada malam harinya kami menyalin materi”. Kemudian dia berkata, ”Lalu kami pergi untuk mengikuti pelajaran salah satu syeikh, ketika sampai di sana kami mendapati syeikh sedang sakit. Lalu kami hendak makan dan membeli ikan. Setelah itu kami membawanya ke rumah tersebut dan ternyata sudah jadwalnya syeikh yang lain untuk mengajar. Lalu kami tinggalkan ikan tersebut dan kami berangkat.” Setelah selesai pelajaran, dia berkata : ”Kami tidak sempat memanaskannya sehingga kami memakannya dalam keadaan mentah.” Hal ini menunjukkan perhatian mereka yang besar terhadap waktu.
    3. Merasa membutuhkan
    Meskipun engkau telah memperoleh ilmu, jangan mengira bahwa dirimu berada di atas segalanya. Merasa membutuhkan adalah hal yang penting bagi penuntut ilmu dengan selalu merasa bahwa dia belum mencapai sesuatu. Imam Bukhori, seorang ulama besar menceritakan tentang muridnya Imam Tirmidzi.
    Betapa indahnya perkataan Sufyan Ats Tsauri : Seseorang tidak akan mulia sampai mengambil ilmu dari orang yang lebih pandai darinya dan dari orang yang semisalnya dan yang berada di bawahnya.”
    Merasa membutuhkan bagi seorang penuntut ilmu itu sangat penting. Dasarnya adalah tawadlu dan menjaga jiwa.
    4. Ghurbah (mengasingkan diri )
    Ghurbah di sini mempunyai dua makna:
    – Melakukan perjalanan jauh untuk menuntut ilmu.Yaitu kamu bepergian dan meningggalkan keluarga dan tempat tinggalmu untuk menuntut ilmu. Perjalanan ini merupakan sesuatu kebanggaan para ulama terdahulu terutama ulama hadits. Apakah di antara kita saat ini ada yang memiliki keinginan yang kuat meski berada di kejauhan ketika mendengar hadits, ”Barangsiapa yang mengatakan Lailaha illallah Muhammad Rasulullah, dibukakan baginya kedelapan pintu surga.”
    – Tidak berkumpul dengan manusia, (kecuali hanya berkumpul dengan sesama penuntut ilmu, red). Yaitu sesungguhnya teman-temanmu yang bersamamu dalam menghabiskan waktu adalah para penuntut ilmu. Sehingga engkau merasa asing jika berada di suatu tempat yang penduduknya bukan penuntut ilmu.
    5. Bimbingan Guru
    Mengambil ilmu dari para guru (Syeikh / ustadz) memberimu 3 faedah :
    – Mempersingkat waktu.Kitab yang biasa engkau baca dalam waktu satu bulan,maka dengan bimbingan guru dapat diringkas hanya dalam waktu satu pekan saja dengan ringkasan yang baik.
    – Meluruskan pemahaman yang keliru
    – Mengajarkan adab.
    Maka merendahlah kamu di hadapan guru meskipun engkau memiliki ilmu yang tidak dimilikinya. Betapa indahnya apa yang dikatakan oleh Mujahid bin Jabr rahimahullah, ”Tidak akan memperoleh ilmu dua golongan, orang yang malu dan orang yang takabbur.”
    6. Waktu yang lama
    Menuntut ilmu itu dalam waktu yang lama merupakan hal yang sangat penting bagi penuntut ilmu. Penuntut ilmu itu tidak boleh terburu-buru dan merasa cukup dengan sedikit dari apa yang sudah dipelajarinya. Dan tidak boleh merasa cukup dengan membaca buku saja. Maka wajib baginya untuk menuntut ilmu sepanjang umur dan waktu.

    (http://kebunhidayah.wordpress.com/2009/12/24/6-tips-dalam-belajar-agama/)